Rasa bersalah yang saya bawa sampai sekarang

Saya barusan lihat trailer film “Catatan Dodol Calon Dokter The Movie” di Youtube, film tentang cerita dokter yang sedang koas. Katanya film ini tayang di bioskop mulai 27 Oktober.

Baru kali ini ada film yang ceritakan sisi “manusia” dokter koas, bukan sebagai tenaga kesehatan.

Ada satu adegan di cuplikan film ini yang buat saya benar-benar sedih, karena hampir sama dengan apa yang saya alami waktu koas tahun 2012, di RSUD dr. Soetomo, Surabaya.

Waktu itu saya dapat shift malam dan ada pasien sepsis yang harus saya monitor.

Saat saya cek, tensi pasien bagus, nadi bagus, napas juga tidak ada masalah.

Karena saya rasa kondisi sudah aman terkendali, saya masuk ke kamar koas, rencananya mau istirahat sebentar, yang ternyata berakhir… ketiduran.

Sekitar jam 10 malam, perawat dengar pasien sepsis tadi mengorok, langsung dia masuk ke kamar koas memanggil saya.

Waktu saya datang ke bed pasien, kaget sekali karena beliau sudah dalam kondisi henti napas dan henti jantung.

Itu adalah pengalaman pertama saya menghadapi henti jantung, dan terus terang… saat itu secara ilmu saya tidak siap.

Saya lakukan apa yang pernah saya tahu, langsung RJP pasien…

Satu kali RJP, dua kali.., tiga kali… tapi tidak berhasil.

Saya ingat betul waktu itu anak laki-laki pasien yang masih SMP, dan istri beliau menangis terpukul,

“Tolong dok, tolong selamatkan ayah saya”

permintaan yang ingin sekali saya penuhi.

Alhamdulillah di situasi ini, PPDS jaga datang. Langsung dia periksa nadi karotis, pupil dan lakukan RJP sekali lagi.

Tapi kami semua tidak bisa melawan takdir, dan harus memberitahu keluarga kalau pasien sudah meninggal dunia.

Setelah kejadian itu, beberapa hari saya makan tidak enak, tidur juga tidak enak.

Saya merasa sangat bersalah dan menyesal.

Bukan menyesal karena tidak bisa menyelamatkan nyawa pasien, karena itu adalah takdir Tuhan.

Tapi saya menyesal karena jarang mengulang materi kasus henti jantung,

Kesalahan besar yang membuat saya tidak siap menghadapi keadaan genting pasien yang henti jantung..

Padahal cara untuk menangani aritmia dan henti jantung sudah dikupas sangat jelas pada bab XVI buku EIMED Merah PAPDI http://event.dokterpost.com/eimed-merah

Tapi sayangnya… buku ini belum ada waktu saya koas tahun 2012.

Salam,
Akbar Fahmi

Demak Timur V | Surabaya | Jawa Timur

Mau berhenti terima email dari saya & DokterPost? Bisa klik [unsubscribe]